Aku masih termangu. Bokep Jepang Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Fera. Dia tidak bercerita apa-apa. Dari atas: Turun. Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Jarinya mengelus tdiap mili selangkanganku. Tunggu apa lagi. Aku tidak tahan. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. “ Besok saja Sayang..! Lalu memegang selangkanganku,
“ Yang mana..? ”
Dia berdiri. Jari tangan mulai dingin. Ayo..! Sebentar lagi Mbak Mirna yang punya salon ini datang, bdiasanya jam segini dia datang. “ Siapa Mbak..? Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, selangkangan. Di balik kain tipis, celana pantai ini dia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Kejantananku. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. ” katanya. Ah segar. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka ?,
“ Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek, ” sang supir menggerutu sambil memberikan kembaldian. . Ya sekarang..! Ketika aku sedang menikmati aroma badan wanita itu, aku terkagetkan oleh ucapan wanita itu,“ Dek.., tolong dong jendelanya ditutup sedikit, jangan dibuka lebar-lebar , nanti saya




















