Aku menatap jam dinding. Bokep Jilbab/Hijab Darah seperti terpompa ke ubun-ubunku..“Aku mau di sini saja, kalau boleh. Kujelajahi dengan mulutku semua permukaan dadanya. Mbak Marisa mengerling dengan senyum semanis brownies itu, dan menghilang di balik pintu.Seminggu kemudian, sore itu mendung mulai menyergap, dan pada malam harinya hujan benar-benar turun menghujam ke bumi. Aku terperangah malu tertangkap basah seperti itu.“Sori, Mbak!”“Kau bilang sori, tapi terus menatap dadaku. Aku hanya bisa mematung duduk persis di hadapannya. Ia memberiku kenikmatan seminggu penuh. Bibirnya merekah, pipinya merona dan pandangan
matanya benar-benar membuat dadaku berdebar-debar.“Perkenalkan, nama saya Fredi dan ini istri saya, Marissa. Entah kenapa aku jadi ketakutan. Ia memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga kepada ayahku. Aku menginginkannya, lebih dari yang kau impikan”. Ia melepas tank-top dan melepas kaosku. Ia pasti sibukmengatur rumah. Sejenak matanya menatapku. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah dagau kosong di gunung Bromo dan di mana
saja.Aku




















