Aku
terus membacanya, jakunku yang mulai tumbuh bergerak-gerak menelan
ludah. Bokep Besok-besoknya aku
tak pernah memiliki kesempatan untuk menggerayangi lemarinya. Aku menikmati
saat itu. Anak-anaknya
dibawa semua. Pantas, Kak Tina tak
mengijinkanku membacanya, pikirku. Setelah makan, seperti biasa aku dan Kak Tina
menuju kamar kami. Aku memandangnya. Aku menahan nafas. Yang pasti ini menandakan kamu sudah besar. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. Tanpa apa-apa. Aku baru
ingat, kalau Bu Rochim ada acara di Dinas Pertanian. Aku
terus membacanya, jakunku yang mulai tumbuh bergerak-gerak menelan
ludah. Mataku kupejamkan, berpura-pura seperti orang tidur. Namanya Tina, gadis Bali berkulit hitam manis. Reflek kuelus sendiri kemaluanku. Saat
ini aku merasakan puber yang sebenarnya.Saat tangan Kak Tina mencoba
meraih ritsluiting celanaku, terdengar suara motor bebek memasuki
halaman rumah. Sensasi yang kurasakan bertambah dengan rasa takut ketahuan. Ceritanya benar-benar vulgar. Antara rasa takut akan ketahuan dan kenikmatan
meletakkan tanganku di atas dada seorang dara.




















