Kakiku rasanya panas. Namun kupikir itu tak mengapa, toh nanti therapist-nya juga perempuan. Bokeb Namun, kupikir kembali tentang suamiku dan kemesraan kami yang telah hilang belakangan ini. Aku tak mampu menjawab, hanya menggelengkan kepalaku. Dari bagian atas, ia lanjut memijat samping susuku, kemudian bagian bawah susuku. Pijatan mereka sungguh nikmat. “Sayang, coba lihat yang baru aja aku beli.”, Aku memamerkan lingerie yang sore tadi aku beli. “Silahkan ibu, ada yang bisa saya bantu.”, kata resepsionis. Dan bukan penis suamiku. Namun aku meminta sesi pijat selanjutnya tak aku jalani di klub, melainkan di rumah, dan yang melayaniku tetap si Toni dan Imam. Aku semakin tak mampu menahan pipisku, dan akhirnya aku pipis. Aku merasa nyaman. Kami berlangganan koran, dan koran yang diantar memang dimasukkan ke kotak surat. Mereka sedang menyiapkan minyak dan masker. Sungguh tak sabar. Aku mengatur nafasku, dan masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang barusan.




















