Aku terlkulai lemas di atas tubuhnya. Bokepindo Maya memang tidak begitu agresif ketika aku melakukan rangsangan pemanasan. Enam bulan kemudian, aku di tugaskan kembali untuk datang ke kota ini. Untuk kemudian kami kembali rebahan di kasur. Satu wanita dan satu pria melayaniku dengan sopan. Ketika pintu kamar ku buka, aku melihat maya dengan tas di pundaknya, celinguk ke kiri dan kanan tidak ada siapapun di sampingnya “mana mba?”
Maya tidak menjawab, dia masuk ke kamarku, ada sedikit dongkol dalam hati, birahiku seakan takan tersalurkan. “mau di minum nggak?”
“gak gah jijik……”
“Enak lagi…’
“enggak ah, aku belum pernah.”meski tidak mau memimun spermaku, dia mengabil kondom di tanganku. kami mendapat penjelasan darinya, dan bahkan mereka berdua merekomendasikan hotel yang mengizinkan tamu yang bukan pasangan. gapapalah masih banyak hotel di sini.Dalam perjalanan mencari hotel yang lain, aku dan rina menertawakan kami sendiri.




















