Ingin sekali saya bertanya, namun kata-kata sepertinya terpaku dalam mulutku. Bokeb Mbak Sally lagi dikeroyoki oleh suamiku dan suaminya. “Belum tahu tuh, mungkin setelah sarapan kita diskusikan lagi. Ntar siapa yang kuat nyetir?” mas Tomy menjawab. Aku menutup mata, mau menangis, namun tak bisa. Dengan lidahnya ia mempermainkan daerah sekitar duburku yang membuatku semakin terbang tinggi. Hari pertama tak ada yang terjadi alias biasa-biasa saja, namun masuk hari kedua, saya mulai mencium ada yang tak beres antara suamiku dengan mbak Sally. Aku kesal, marah dan ingin berteriak histeris. Perlahan aku menuju dapur, namun begitu akan memasuki ruang tengah, ada suara-suara yang tak asing lagi di telingaku dari ruang keluarga. mas Edy menimpali sambil tersenyum. Aku begitu liar, rasioku hilang. Di selangkanganku mas Tomy lagi asik dengan permainannya. Aku berusaha meronta, namun tangan-tangan mereka terlalu kuat. 45 menit berlalu, aku merasa semakin tidak nyaman menunggu giliranku di salon.




















