Tubuhku pun telah hampir telanjang, pakaianku berserakan di lantai. Bokep China “Iya den..” Jawabnya pelan. Aku paham dirinya tengah dilanda kebingungan, di satu segi dirinya segan menepis godaanku, di segi lain dirinya tidak ingin terjerembab dalam perzinahan bersamaku lagi. Jemariku menyentuh pangkal tangannya, menepuknya pelan kemudian tanpa bicara aku melangkah masuk ke kamar sambil menutup pintu. Aku kembali terdiam, kepalaku tetap terasa pusing. Mbak Juminten tetap meperbuat pekerjaanya dengan baik. Kerjaanku makin tidak sedikit mendekati akhir tahun. Mbak Juminten memekik menyebut namaku saat tusukanku tiba2 berhenti, tubuhku tengah meregang. Mudah2an mbak Juminten tidak memperkarakanku, menganggapnya berakhir hanya di sini. Dia mungkin rugi telah mengucap kata2 yg tadi memancing kenekatanku. Aku berangkat kerja agak telat keesokan harinya, aku sengaja menantikan mbak Juminten datang, memastikan bahwa kekawatiranku tidak terjadi. Ruangan menjadi sunyi. “Nanti baring aja lagi di kamar, bunda kelak nyusul..”Jawabnya sambil berusaha meraih celana dalamnya. Bahkan ketika aku mengubah posisi, membawa kedua pahanya ke atas, menahanya tergantung di udara dengan kedua




















