Ayo. Bokep Hot Tangannya halus. Hanya suara kebetan majalah yg kubuka cepat yg terdengar selebihnya musik lembut yg mengalun dari speaker yg ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Untung ada tissue yg tercecer, sehingga ada alasan buat Iin.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yg menunggu telepon. Betulkan, ia tdk akan datang begitu saja. Kadang-kadang ketimun. Haruskah kujawab sapaan itu? Bergantian Iin kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati toketnya, ia melenguh. Aq masih mematung. Sial. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Kantorku tak lama lagi keliatan di kelokan depan, kurang lebih 200m lagi. Tdk apalah hari ini tdk ketemu. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aq turun. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aq turun.




















