Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Bokeb Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yang.., cepat-cepat berkemas. Aku tersetrum. Pijitan turun ke perut. Napasnya tersengal. Ke bawah: Tidak. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Begini saja daripada repot-repot. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Ia tidak bercerita apa-apa. Tapi ia dingin sekali. Lalu dikocok-kocok sebentar. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Aku tersetrum. Tidak perlu diantar. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di




















