Ah masa bodo. Vidio Bokep Iatidak lagi dingin dan ketus. Aku pertegas bahwaaku mengendus kuatkuat aroma itu. Lha wongMbak Wien menutupi wajahnya begitu. Tapi masih terhalang kain celana. Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Dadaku berguncang. pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depanberdering. Kring..!Mbak Wien, telepon. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jaritangannya. Aku menyesal mengutuk ibu ketikapergi. Kadangkadangketimun. Ia memulai pijitan. Kaki disandarkan didinding. Hanya suara kebetan majalahyang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musiklembut yang mengalun dari speaker yang ditanam dilangitlangit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletakpletokpletok. Ah. Ke bawah lagi: Turun. pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depanberdering. Lho, salon kan tempat umum. Dingin.Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di ataskulit punggung. Aku masih di atas angkot.Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.Masih menutupi diri dengan tabloid. Duduk di tepi dipan. Pokoknya turun.Kiri Bang..!Aku lalu menuju salon. Bayar arisan.Tidak apalah hari ini tidak ketemu.




















