Seperti yang dia lakukan padaku tadi, aku mulai mengurut-urut bagian lehernya, kemudian turun ke punggung, pinggang dan paha. Bokep Cina Itu bertanda dia setuju. Melihat Silvia begitu masih belum reda, birahiku bangkit kembali. Cukup lama, aku menunggu sendiri di peron, hampir satu jam hanya duduk memandang orang-orang berlalu-lalang. Dengan memanfaatkan jasa kereta cepat Argolawu jurusan KotaX-Jakarta, aku bisa melesat ke Stasiun Gambir Jakarta. Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu. Bahkan, dia malah memintaku datang ke Jakarta dan segala biaya akan dijamin.Tanpa pikir panjang aku menyatakan siap. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah. Mau tahu kelanjutannya ? rasanya itu membuatku tak sabar untuk melumatnya. Berkali-kali. Ritsluiting jeans-ku kuturunkan. Malah membuat lidahku bergerak semakin menggila. Karena itu, begitu tiba di hotel aku bergegas chek-in dan membogkar rahasia perasaanku di kamar nomor 102.Di kamar hotel 102, di antara lampu remang-remang, Silvia hanya termangu memandangiku.




















