Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Bokep Ojol Makin lama makin jelas. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Tamat.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Ke bawah lagi: Turun. Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Aku mengikutinya. Aku tahu di mana ruangannya. Aku masih termangu. Makin lama makin jelas. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah?




















