Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Bokep Cina Membuatku tidak berani. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Ayo..!Aku masih diam saja. Aku harus memulai. Masih ada esok. Bayar arisan. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Lalu ngomong apa? Astaga. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun.




















