Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Bokeb Selera makanku mendadak punah. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku? “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.Hamil muda?!?!




















