Sial. Vidio Bokep Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Kuusap sisa cream. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Aku tahu di mana ruangannya. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Sial. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Dadaku mulai berdegup lagi. Ah bodoh. Jendela kubuka. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Atau apalah? Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring.




















