Kadang-kadang ketimun. Hitam. Bokep Colmek Ah apa saja. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Kadang-kadang ketimun. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia tersenyum. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Atau apalah? Aku masih di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Lalu dikocok-kocok sebentar. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.“Dik.., jangan dibuka lebar.

















