kok diam?” tegur Pak Budi, sambil duduk di sampingku, aku tersyum, “ Non merasa kesepian ya? Aku kan sudah bapak anggap anak Pak“ kataku memelas, namu Pak doni sudah duduk di atas kepalaku sambil memegang tanganku,“cup…cup….” tangannya yang kasar, mengahapus air mataku yang mulai membasahi pipiku, “tenang Bapak pasti melepaskanmu sayang, tapi nanti ya,”Perlahan tangan Pak Budi mulai mengelus-elus pahaku,“kaki mu putih sekali sayang, Bapak suka,”Aku hanya dapat memejamkan mata, menikmati sentuhan-sentuhan Pak Budi yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, aku benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan mereka terhadapku, kurang baik apa kami terhadap mereka sehingga tega berbuat senista ini.“ha..ha…. Bokep Colmek hhmm… itu bukan punya saya Bu” jawab Ari dengan terbata-bata, aku menatap mukanya yang sekarang memerah,“ Semenjak kapan kamu suka mengumpulkan majalah-majalah seperti ini Ri” kataku dengan ketus, seolah-olah ingin marah, padahal aku mulai terangsang melihat isi dalam majalah-majalah tersebut.Aku semakin kaget saat melihat benda yang sangat aku kenal ada di dalam tumpukan majalah tersebut, aku semakin deg-degan,










