Sore itu selepas jam kantor aku masih saja berada di ruang kerjaku. Kini giliran Nina yang gencar mencumbui leher Diana yang tampak mengkilat bersimbah peluh. Bokeb Terasa hangat ketika lidahnya menjilati betisku. Diana cukup sering menelpon dan bercerita banyak hal denganku. Kuangkat kedua tungkai kakiku dan kuletakan diatas meja dengan posisi kaki saling menyilang. Jakarta , medio September 2000. Bagiku itu tandanya Bramanto sudah mulai menduga arah pembicaraanku. “Aku sih percaya omongan dia..lagipula kamu nggak tau yah kalo semalam mbak Diana tuh pulangnya bareng Nina. Wah seruku dalam hati. “mmm..aku mau makan siang di sini aja..thx buat ajakannya” jawabku. Mungkin karena tadi pagi sarapanku cukup banyak sehingga aku memutuskan hanya menyantap apel yang kubawa dari rumah. …Bip..bip..bip..bip..Ah! Semenit kemudian aku sudah menyerahkan diriku secara total kedalam kenikmatan yang berawal dari bagian paling sensitif dari tubuhku. Lagian khan lebih tidak menyenangkan kalau saat ini aku keluar dan mengganggu ‘permainan’ mereka.




















