Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Bokeb Tetapi, bayangan itu terganggu. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Tetapi tdk lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Tetapi, aq harus berani. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aq tengkurap. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Tetapi berlari. Baunya memang agak lain, tetapi mambu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yg belum pernah ia rasakan.“Dik.. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yg datang, baru aq saja. Aq kira aq sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Lha wong Mbak Iin menutupi wajahnya begitu. Tapi kakiku saja yg seperti memagari tubuhnya. Toh masih ada hari esok.Aq bergegas naik angkot yg melintas. Ia terus mengelap pahaku. Come on lets go! Aq berhasil.“Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga.




















