Satu dua, satu dua. Bokep Jepang Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Aku tidak menjepit tubuhnya. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Tapi masih terhalang kain celana. Kring..! Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Angin menerobos dari jendela. Tunggu apa lagi. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Aku tersetrum. Ah segar. Angin menerobos dari jendela. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Wajahku mulai panas. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku tidak menjepit tubuhnya. Tetapi, bayangan itu terganggu. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon.




















