Ia tersenyum. Lho, salon kan tempat umum. Bokep Barat Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Junior berdenyut-denyut. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Wajahku merah padam. Ia tepat berada di tengah-tengah. Dingin. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Dari atas: Turun. Ah sialan. Ah sialan. Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Inilah kesempatan itu. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Sekali. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ke bawah lagi: Turun.




















