Lalu kupandangi wajah Mbak Titis, titik2 keringat bermunculan di keningnya. “Ouhh… Mas…”, tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. Bokepindo Aku puter aja musik tahun 80an. Kuperhatikan sejenak situasi sekitarku. Kuciumi terus mulai dr atas lutut sampai mendekati pangkal pahanya. Ibu Titis bekerja di sebuah perusahaan swasta di jogja. Baju-bajunya selalu tanpa lengan dan sering memakai rok yang sedikit di atas lutut. Sesekali bibirnya turun ke pelirku dan mengisap dengan kuat. Tapi justru payudaranya yang kecil itu yang membuatku sangat penasaran. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Titis. “Mas, enak banget”, tambahnya lagi. Gurih terasa di muluntuku. Kurasakan ada cairan menempel dilidahku. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap cemas. Aku membungkuk dan mencium lembut jari kaki sebelah kirinya sementara tangan kananku membelai lembut betis kanan Mbak Titis.




















