Dari iramanya bukan sedangberjalan. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokandepan, kurang lebih 100 meter lagi. Bokep Colmek Astaga. Ia tidak membalas tapi lebih ramah.Tidak pasang wajah perangnya.Kayak kemarinlah.., ujarnya sambil mengangkat tabloidmenutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Lama sekali iamemijati pangkal pahaku. Itu artinya iatidak mau diganggu. Hidungnya tidak mancungtetapi juga tidak pesek. Ini garagara ibukumenyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Apakah perlu menhitungkancing. Hap. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Aku duduk di tepi dipan. Tapi sayagerah. Ah. Wajahku mulai panas. Tapi masih terhalang kain celana. Menantang dengan mata genit sambilmendekati pintu salon. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruhbayar arisan.Mbak Wien.., gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depanberdering. Lagi pula percuma,tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Pasti terburuburu. Akumengikutinya. Ah mengapabegitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku.




















