“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Dewi sambil meletakan piring yang dipegangnya. Bokep Rusia Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Dewi. Aku terbaring ke samping. “Jangaaaaannn… please ! orang lagi dibaca juga !”, kak Dewi berusaha meraih majalahnya kembali. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Waduh aku kehabisan kata-kata. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kulihat kak Dewi menatapku dalam-dalam. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ? Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Dewi. Kak Sinta menggeliat-geliat. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku. Kak Dewi terdiam. Ahhh.. Aku semaki berani karena kak Dewi membiarkan aku menciumi pundaknya. “Pake malu-malu lagi !”, kak Dewi memaksaku melepaskan bantal. “Kak, maafin Tedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.




















