Aku harus memulai. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yang.., cepat-cepat berkemas. Bokep Hot Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Tunggu apa lagi. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Kadang-kadang ketimun. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Ia tersenyum. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Jari tangan mulai dingin.




















