Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.“Tahu apa? Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Bokepindo Indo meninggal. Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo, Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Kami harus meyakini. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.“Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo.




















