Akupun keluar kamar, menyongsong dirinya. Bokeb Mata Kak Tina mendelik-delik,
nafasnya terengah-engah. “Tapi kan saya ingin tahu. Tanpa sadar tanganku menggosok bagian kelaminku. Tangan Kak Tina yang kanan mencengkeram pahaku. Dia tetap tenang. Sepatu-sepatu
terjatuh menimbulkan suara berisik. Aku bersemu merah. Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. “Ini? Aku
melihat Kak Tina memegang novel dengan tangan kanannya, sedang tangan
kirinya menggosok-gosok bagian rahasia tubuhnya. Jantungku berdebar kencang. Bukan, beliau orang baik (sampai
sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu). Sesampainya di rumah keadaan memang sangat sepi. Kelihatannya bagus. Pahanya, yang walaupun sedikit gelap namun mulus itu
terpampang jelas di mataku. “Berdiri sebentar, Sapto”. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak tertarik membacanya. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. “Ya”
“Kalau begitu, duduklah di pangkuanku”
Aku
kaget, tapi tanpa berkomentar aku lalu duduk di atas pahanya. Hanya itu. Mukanya yang sedikit hitam
bertambah gelap. “Benar. Mulai saat itu aku menyukai Pendekar Mata
Keranjang dan sejenisnya. Inilah pertama kali aku
menyentuh dada seorang gadis, sepanjang umurku.




















